FOSTECH ke-11 MAI Angkat Integrasi Mangrove dan Akuakultur untuk Budidaya Perikanan Berkelanjutan
Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) kembali menyelenggarakan kegiatan Forum Science and Technology (FOSTECH) ke-11 1 September 2026 via daring yang dibuka oleh Sekjen MAI Dr. Novi Novriadi, dengan mengangkat isu strategis mengenai integrasi akuakultur dan mangrove. Webinar ini menjadi ruang diskusi penting bagi akademisi, praktisi, pembudidaya, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melihat mangrove bukan semata sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem produksi akuakultur yang berkelanjutan.
Kegiatan FOSTECH ke-11 menghadirkan pembahasan mengenai konsep “Integrasi Akuakultur & Mangrove” yang menekankan pendekatan ekologis sekaligus peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Dalam paparannya, Hendra Gunawan menekankan bahwa tantangan budidaya tradisional tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga menyangkut kualitas lingkungan, sumber daya manusia, teknologi, permodalan, ketersediaan benih, hingga perubahan iklim. Oleh karena itu, pengelolaan tambak perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih terintegrasi melalui pengelolaan air, pemanfaatan ekosistem mangrove, penerapan teknologi yang sesuai, serta penguatan kapasitas pembudidaya.
Mangrove sebagai Infrastruktur Produksi
Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Esti Handayani Nardi, S.Pi., M.Si., yang mengangkat tema “Integrasi Akuakultur & Mangrove: Pendekatan Ekologis dan Produktivitas yang Berkelanjutan.” Pemaparan tersebut menawarkan perspektif bahwa mangrove tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi pengembangan tambak, melainkan sebagai bagian dari infrastruktur produksi yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi.
Salah satu pertanyaan penting yang menjadi dasar pembahasan webinar adalah bagaimana meningkatkan produktivitas per hektare tanpa harus menambah konversi lahan mangrove. Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan peningkatan produksi perikanan nasional dan tuntutan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Tiga Pesan Penting FOSTECH ke-11
Menutup rangkaian pembahasan, terdapat tiga pesan utama yang dapat menjadi refleksi bersama bagi pengembangan akuakultur Indonesia ke depan.
Pertama, mangrove adalah infrastruktur produksi. Keberadaan mangrove memberikan berbagai jasa ekosistem yang memiliki manfaat nyata bagi kawasan pesisir dan sistem budidaya.
Kedua, ruang pertumbuhan berikutnya bukan selalu berasal dari pembukaan lahan baru. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui optimalisasi tambak yang telah ada dan penerapan sistem budidaya yang lebih efisien.
Ketiga, perbaikan hidrologi dan pembagian manfaat yang adil menjadi fondasi penting dalam membangun sistem integrasi mangrove dan akuakultur yang berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan FOSTECH ke-11, MAI kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mendukung kemajuan sektor akuakultur Indonesia. Integrasi mangrove dan akuakultur diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan strategis dalam mewujudkan produksi perikanan yang produktif, ekosistem yang tetap terjaga, serta kesejahteraan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.
FOSTECH MAI terus menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, dan pengalaman lapangan demi masa depan akuakultur Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.
MAI Connect · Masyarakat Akuakultur Indonesia