Info AKUAKULTUR Eds 132 – Januari 2026
Budidaya udang vaname Indonesia memasuki awal 2026 di tengah tantangan cuaca ekstrem, khususnya intensitas hujan yang semakin tinggi dan tidak terprediksi.
Perubahan pola hujan ini berdampak langsung pada stabilitas ekosistem tambak, mulai dari penurunan salinitas, fluktuasi pH, hingga pelepasan gas beracun seperti H₂S dan amonia dari dasar tambak, yang memicu stres dan penurunan performa udang.
Tambak yang selama ini tampak normal menjadi “rapuh” ketika daya dukung lingkungan tidak mampu menahan tekanan perubahan cuaca dan beban organik yang menumpuk.
Musim hujan memperbesar risiko penyakit akibat gangguan metabolisme udang, penurunan nafsu makan, serta kesalahan manajemen pakan yang berujung pada akumulasi bahan organik di dasar tambak.
Parameter kualitas air seperti alkalinitas, oksigen terlarut, pH, dan keseimbangan plankton menjadi faktor kunci yang harus dikendalikan untuk menjaga stabilitas sistem budidaya.
Memasuki 2026, pendekatan budidaya dituntut lebih adaptif, dengan penyesuaian kepadatan tebar, manajemen pakan yang presisi, serta pengelolaan kualitas air berbasis pemantauan rutin, bukan reaksi darurat.
Penguatan fondasi ekologi tambak melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci menjaga keberlanjutan, kesehatan udang, dan daya saing industri udang nasional di tengah tekanan iklim yang semakin nyata.
Selengkapnya dapat dibaca pada Info Akuakultur Edisi No.132 Tahun XII Januari 2026.
Tambak yang selama ini tampak normal menjadi “rapuh” ketika daya dukung lingkungan tidak mampu menahan tekanan perubahan cuaca dan beban organik yang menumpuk.
Musim hujan memperbesar risiko penyakit akibat gangguan metabolisme udang, penurunan nafsu makan, serta kesalahan manajemen pakan yang berujung pada akumulasi bahan organik di dasar tambak.
Parameter kualitas air seperti alkalinitas, oksigen terlarut, pH, dan keseimbangan plankton menjadi faktor kunci yang harus dikendalikan untuk menjaga stabilitas sistem budidaya.
Memasuki 2026, pendekatan budidaya dituntut lebih adaptif, dengan penyesuaian kepadatan tebar, manajemen pakan yang presisi, serta pengelolaan kualitas air berbasis pemantauan rutin, bukan reaksi darurat.
Penguatan fondasi ekologi tambak melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci menjaga keberlanjutan, kesehatan udang, dan daya saing industri udang nasional di tengah tekanan iklim yang semakin nyata.
Selengkapnya dapat dibaca pada Info Akuakultur Edisi No.132 Tahun XII Januari 2026.
MAI Connect · Masyarakat Akuakultur Indonesia