Berita 26 Juni 2025 oleh Sekretariat MAI

Info AKUAKULTUR Eds 125 – JUNI 2025

Kondisi letak geografis Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat memiliki konektivitas yang tinggi antar tambak, sungai, estuaria, dan laut yang memungkinkan penyebaran Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) lebih cepat dan mewabah hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia.

Jaringan irigasi horizontal yang menghubungkan antar tambak yang berdekatan juga memudahkan perpindahan spora EHP, terutama saat curah hujan tinggi menyebabkan limpasan air.

Menurut Susi Sari Astuti, Product Manager PT Tequisa Indonesia, penularan EHP disebabkan adanya jalur transmisi antar udang. Spora EHP akan berkembang biak di dalam sel inang (udang). Infeksi EHP pada udang memang tidak secara langsung menyebabkan kematian. Udang yang telah terinfeksi oleh EHP akan mengalami kerusakan pada hepatopankreas, mengganggu proses penyerapan nutrien pakan, dan menurunnya fungsi imun udang.

Ia melanjutkan, kondisi tersebut memicu kerentanan udang terhadap infeksi sekunder, misalnya dengan bakteri Vibrio yang menyebabkan munculnya penyakit White Feces Syndrome (WFS), tentunya dapat menyebabkan kematian udang yang berdampak pada kerugian budidaya.

Oleh karena itu, tantangan utama saat ini adalah bagaimana cara berbudidaya dengan adanya EHP agar tetap bisa menghasilkan.

Penggunaan benur tanpa melakukan skrining awal dapat berpotensi menjadi salah satu agen penularan EHP,kata Susi, melihat kondisi lingkungan perairan yang memang sudah endemic hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia.

Uji PCR dan pengamatan mikroskopis sebelum penebaran benur menjadi salah satu tindakan early detection untuk mengetahui apakah benur yang ditebar sudah mulai menunjukkan gejala abnormalitas, sehingga dapat membantu menentukan langkah berikutnya terhadap kondisi benur yang sudah ditebar. Pentingnya pemilihan benur yang berasal dari hatchery bersertifikat dan memiliki status SPF (Specific Pathogen Free) atau SPR (Specific Pathogen Resistant).

Desinfeksi akan menjadi pendekatan yang memungkinkan untuk menonaktifkan spora EHP, terutama di kolam dengan riwayat infeksi EHP sebelumnya. Sementara, untuk mengurangi dan mengendalikan jumlah spora EHP di dalam tubuh udang dapat menggunakan beberapa jenis feed additive yang memiliki kemampuan untuk merusak dan menghentikan germinasi spora EHP dan memperbaiki kerusakan hepatopankreas.

Selengkapnya Download di Sini Info AKUAKULTUR Eds 125 – JUNI 2025

MAI Connect · Masyarakat Akuakultur Indonesia

Berita Lainnya